Model Pembelajaran Studysaster

Tanggal

PROGRAM NYALANESIA

PROGRAM
NYALANESIA

1. GSMB NASIONAL

Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional (GSMB Nasional) adalah sebuah program pengembangan literasi sekolah, yang memfasilitasi seluruh siswa dan guru jenjang SD, SMP, SMA dan sederajat untuk dapat menerbitkan buku berISBN, mendapatkan pelatihan dan sertifikasi kompetensi, pendampingan pengembangan program literasi, serta kompetisi berliterasi paling bergengsi di tingkat nasional dengan total hadiah jutaan rupiah.

2. SPL Nasional 2021

Sosialisator Program Literasi Nasional (SPL Nasional) adalah penggerak literasi nasional yang dibentuk, dilatih dan dikembangkan oleh Tim GMB-Indonesia

3. BANPELIP

Program BANPELIP berfokus untuk mendorong peningkatan kompetensi berliterasi melalui serangkaian program pelatihan dan sertifikasi, sekaligus mendorong produktivitas dan publikasi karya dengan fasilitas penerbitan buku selama 3 tahun.

Studysaster: Alternatif Model Pembelajaran Selama Pandemi

Model pembelajaran Studysaster, oleh Zakki Fitroni, M.Pd. (Ketua Tim Siaga Bencana SMP Negeri 01 Batu)

Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020 lalu, Kemendikbud mengangkat tema “Belajar dari Covid-19.” Menanggapi hal tersebut, Zakki Fitroni, M.Pd. (Ketua Tim Siaga Bencana SMP Negeri 01 Batu) membuat sebuah artikel tentang model pembelajaran bagi guru maupun siswa dengan judul “Studysaster: Kontribusi Guru Cegah Covid-19” di laman guruberbagi.kemdikbud.go.id.

Dengan belajar dan berdiam diri di rumah, peserta didik sudah berkontribusi dalam menekan penyebaran Covid-19, tetapi bukan berarti mereka tidak punya kesempatan untuk memberikan sumbangsih lainnya. Begitu juga guru, walaupun harus mengajar dari rumah, guru bisa berkontribusi dalam pencegahan Covid-19 dengan mengintegrasikan pendidikan tentang bencana kesehatan dalam pembelajaran.

Yuk, mengenal Studysaster!

Dengan model pembelajaran Studysaster ini, diharapkan siswa mampu mengedukasi dirinya sendiri maupun orang lain tentang Covid-19 dari hasil karya pembelajaran berupa puisi, cerpen, video, foto, poster, komik atau lainnya. Tentu dengan bimbingan secara daring oleh guru pengampu setiap mata pelajaran. Nama Studysaster diambil dari akronim “study” yang dalam bahasa Indonesia berarti belajar, dan “disaster” berarti bencana. Model pembelajaran ini akan memudahkan guru untuk mengintegrasikan pendidikan bencana kesehatan Covid-19 dalam kegiatan pembelajaran.

Model pembelajaran Studysaster dapat didefinisikan sebagai sebuah tahapan pembelajaran yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar, untuk memaksimalkan pengintegrasian pendidikan kebencanaan (pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana) dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran ini mempunyai 6 langkah di antaranya:

1. Identification / Identifikasi (Model pembelajaran Studysaster)

Pada langkah mengidentifikasi, peserta didik bersama dengan guru mempelajari dan berdiskusi tentang definisi maupun jenis-jenis bencana yang ada dan penyebab terjadinya bencana. Yaitu bencana kesehatan Covid-19 yang kita alami saat ini. Berdiskusi tentang deskripsi kondisi tempat tinggal, lingkungan tempat tinggal, dan model pembelajaran Studysaster melalui media daring. Dari diskusi tersebut peserta didik dengan bimbingan guru mampu melakukan identifikasi resiko bencana kesehatan Covid-19 pada dirinya sendiri, maupun orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya.

Kiriman Menarik Lainnya:  KEMANAKAH ISRA MIKRAJ-MU MENUJU?

2. Search / Mencari

Peserta didik melihat contoh-contoh pekerjaan atau tugas pembelajaran tentang bencana kesehatan Covid-19 di internet atau sumber lain yang relevan, sembari terus berdiskusi melalui media daring seperti group whatsapp, zoom atau google classroom. Kegiatan tersebut akan memberikan stimulus dalam mencari dan memahami konsep memvisualkan/menuliskan ide sehingga menjadi sebuah karya yang dapat mengedukasi orang lain tentang Covid-19 bisa berupa poster, komik, video, music, puisi, cerpen atau karya hasil pembelajaran lainnya. Dilanjutkan mencari langkah atau teknik pembuatan karya tersebut melalui google, youtube, buku maupun sumber lain yang relevan.

3. Plan / Merencanakan

Setelah peserta didik melakukan proses mencari referensi maka akan muncul ide/imajinasi awal untuk membuat konsep, pesan, tema dan visual yang akan dituangkan dalam sebuah karya hasil pembelajaran. Ide tentang karya kebencanaan kesehatan Covid-19 yang masih abstrak tersebut kemudian di visualkan/dituliskan dalam bentuk sketsa kasar atau kerangka tulisan, sebagai acuan dalam membuat karya pembelajaran.

4. Create / Mencipta

Setelah menemukan ide/pesan dan rencana karya yang akan dikerjakan, maka peserta didik mulai memvisualkan/menuliskan rancangan tersebut dalam media masing-masing. Jika tugasnya berupa pembuatan puisi, maka medianya dapat berupa tulisan buku atau softfile, tugas berupa poster maka medianya di buku gambar, tugas membuat vlog dapat menggunakan handphone dengan hasil file video dan sebagainya. Karya pembelajaran tersebut hasil akhirnya harus berupa file digital, sehingga yang masih dalam bentuk manual diubah menjadi digital, misalnya tugas membuat puisi di buku tulis dapat digitalkan dengan diketik atau difoto.

Kiriman Menarik Lainnya:  Cerdik Tanpa Plastik

5. Share / Membagikan

Langkah share/membagikan merupakan kegiatan untuk mengedukasi orang lain secara luas. Peserta didik membagikan karya pembelajaran tentang bencana kesehatan Covid-19 yang dibuatnya kepada orang lain secara konvensional atau online. Peserta didik dapat mendiseminasikan karyanya secara langsung kepada orang-orang di rumahnya, juga membagikan karyanya melalui akun media sosial mereka seperti facebook, instagram, twitter, blog atau youtube. Sehingga dapat dilihat, dibaca dan mempengaruhi orang lain untuk ikut melakukan pencegahan Covid-19 dalam cakupan yang lebih luas tanpa harus melakukan pertemuan/kontak fisik.

6. Practice / Mempraktikkan

Karya pembelajaran tentang bencana Covid-19 tersebut wajib untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari agar yang mereka lakukan tidak hanya pada tataran konseptual saja. Seperti ketika membuat karya poster tentang langkah mencuci tangan yang baik dan benar, maka peserta didik harus melakukan cuci tangan sesuai yang sudah disampaikan dalam posternya. Selanjutnya kegiatan tersebut didokumentasikan berupa foto untuk di laporkan ke guru sebagai bukti dia sudah melakukan langkah practice/praktik.

Dengan model pembelajaran Studysaster ini, guru dapat lebih kreatif dan memberi kontribusi nyata yang memiliki dampak luas dalam pencegahan Covid-19. Satu guru akan membimbing banyak peserta didik untuk mengedukasi diri mereka. Selanjutnya, puluhan atau ratusan siswa tersebut akan mengedukasi orang di sekitarnya, juga masyarakat luas melalui media sosial yang mereka miliki.

Sumber: guruberbagi.kemdikbud.go.id

Contoh Rancangan Program Pembelajaran (RPP) Studysaster dapat diunduh di laman guruberbagi.kemdikbud.go.id/rpp/membuat-poster-pencegahan-covid-19/

Artikel
Terkait

GIVE AWAY BUKU “ANDY NOYA: KISAH HIDUPKU”

MENULIS KESAN MENJADI PENGGERAK LITERASI DAPATKAN 10 BUKU KARYA ANDY NOYA UNTUK 10 PENULIS TERPILIH Ketentuan dan alur mengikuti: Peserta adalah Penggerak Literasi (SPL Nasional dan Penggerak Literasi Daerah 2021) 2. Tulisan berisi mengenai kesan terpilih menjadi Penggerak Literasi, kesan bertemu dengan Andy Noya dan

Selengkapnya »

Ikutilah Webinar Nasional Pengembangan Literasi Nasional

GRATIS via YouTube Streaming Peran akademisi dalam pengembangan literasi di sekolah adalah kunci keberhasilan. Sehingga diperlukan wawasan yang luas dan kreativitas yang tinggi sebagai bagian penting dalam langkah nyata mewujudkan literasi sekolah yang berkembang dan berkelanjutan. Nyalanesia mempersembahkan Webinar Pengembangan Literasi Nasional yang diselenggarakan pada:Hari,

Selengkapnya »